Halo Sobat OTOMEDIA! Salah satu konsep yang perlu Anda pahami agar transaksi penjualan dari perusahaan ke konsumen lebih efektif adalah B2C (Business-to-Consumer). Hal itu merupakan tahapan proses bisnis yang tak boleh dilewatkan oleh perusahaan.
Proses bisnis tersebut mulai banyak digunakan perusahaan saat website berkembang. Banyak perusahaan yang menggunakan model bisnis ini agar produk atau jasa langsung digunakan oleh konsumen.
B2C pun berkembang pesat seiring dengan perilaku konsumen, pertumbuhan marketplace, hingga ekspektasi pelanggan yang ingin mendapatkan kemudahan dan pembelian cepat. Bahkan, untuk menyesuaikan perubahan tersebut, banyak perusahaan menggunakan media iklan seperti branding bus dan branding KRL untuk mengonversi B2C menjadi penjualan.
Untuk memahami lebih mendalam terkait dengan model bisnis tersebut, Anda bisa membaca secara lengkap artikel ini yang mengulas tentang pengertian B2C, karakteristik, tipe-tipe, kelebihan, tantangan, dan contoh penerapannya.
Pengertian B2C
B2C adalah sebuah model bisnis di mana perusahaan menjual produk atau jasa secara langsung ke pengguna akhir, yakni konsumen. Target utama dari model bisnis ini adalah individu, bukan organisasi atau bisnis lain.
Biasanya, aktivitas transaksi B2C kerap ditemukan pada marketplace, ritel, aplikasi layanan digital, hingga industri hiburan. Dalam model bisnis ini, hubungan bisnis berfokus pada pengalaman yang cepat, ringkas, dan emosional.
Pasalnya, keputusan pembelian konsumen cenderung lebih dipengaruhi oleh kebutuhan personal, preferensi, atau gaya hidup. Untuk mengonversi keputusan pembelian menjadi penjualan, perusahaan pun menggunakan media promosi iklan seperti media OOH transportasi, iklan digital, baliho hingga billboard.
Dengan kata lain, B2C adalah salah satu strategi ampuh bagi perusahaan untuk menjual produk atau jasa yang ditawarkan.
Karakteristik B2C
7 Karakteristik B2C yang Perlu Anda Ketahui, terdapat beberapa karakteristik khas dari B2C yang berbeda dari model bisnis lainnya. Setiap karakteristik itu pun mampu mendorong penjualan secara signifikan.
- Pengambilan Keputusan Bersifat Individual
Dalam teori consumer decision-making, konsumen bertindak secara mandiri, bukan sebagai bagian dari organisasi. Itu sebabnya keputusan pembelian cenderung lebih cepat dan dipengaruhi oleh emosi, persepsi nilai, motivasi, serta pengalaman pribadi.
- Nilai Transaksi Relatif Kecil Tapi Volume Lebih Tinggi
Teori perilaku ekonomi menjelaskan bahwa transaksi B2C biasanya memiliki nominal kecil namun frekuensinya tinggi, karena didasari kebutuhan harian seperti groceries, layanan hiburan, hingga produk gaya hidup.
- Kuatnya Branding dan Emotional Appeal
Dalam model B2C, teori ekuitas merek menyatakan bahwa persepsi konsumen terhadap brand memiliki pengaruh besar terhadap keputusan pembelian. Itu sebabnya perusahaan B2C menekankan storytelling, diferensiasi, dan pengalaman emosional.
- Pasar Terfragmentasi
Berdasarkan teori segmentasi pasar, B2C memiliki spektrum audiens yang jauh lebih variatif, dilihat dari demografi, psikografi, minat, dan perilaku. Hal ini menyebabkan strategi pemasaran harus disesuaikan dengan kelompok target tertentu.
- Siklus Pembelian Lebih Pendek
Dalam teori customer journey, perjalanan konsumen B2C lebih ringkas dan cepat. Tahapannya biasanya hanya melalui awareness, consideration, purchase, tanpa proses panjang seperti negosiasi, tender, atau kontrak seperti pada B2B.
- Persaingan Tinggi dan Dinamis
Menurut teori keunggulan bersaing Porter, industri dengan banyak pemain memiliki intensitas kompetisi tinggi. B2C cenderung berada di kategori ini, sehingga perusahaan harus terus berinovasi untuk mempertahankan posisi.
- Ketergantungan Besar pada Pemasaran dan Promosi
Dalam IMC, bisnis B2C membutuhkan komunikasi pemasaran yang konsisten di berbagai kanal karena audiensnya luas. Promosi visual, digital, dan iklan luar ruang atau OOH Advertising sering digunakan untuk membangun kedekatan dengan konsumen.
Baca juga:
Kelebihan B2C untuk Bisnis
Model B2C memberikan banyak keuntungan untuk sebuah bisnis. Mulai dari pasar yang luas hingga potensi pertumbuhan penjualan, berikut ini kelebihan dari B2C untuk bisnis.
- Pasar yang Sangat Luas
B2C beroperasi di pasar dengan jumlah konsumen yang besar dan heterogen. Dalam konsep mass market, skala populasi individu jauh lebih besar dibandingkan entitas bisnis, sehingga potensi permintaan menjadi lebih tinggi.
- Brand Equity Makin Kuat
Model B2C memungkinkan brand memperoleh brand resonance yang kuat melalui komunikasi yang konsisten kepada konsumen. Teori ekuitas merek menyatakan bahwa persepsi dan pengalaman pelanggan memiliki peran besar terhadap nilai jangka panjang sebuah merek.
- Potensi Pertumbuhan Tinggi
Dalam model B2C, adopsi teknologi digital mempercepat pertumbuhan melalui scalability. Menurut teori pertumbuhan bisnis berbasis digital, perusahaan yang menjual langsung kepada konsumen dapat melakukan ekspansi tanpa batas geografis.
- Fleksibilitas Produk dan Adaptasi Tren
Teori orientasi pasar menyatakan bahwa perusahaan yang berfokus pada kebutuhan konsumen dapat dengan cepat mengadaptasi produknya. Dalam B2C, perubahan preferensi konsumen memiliki siklus yang cepat sehingga bisnis terdorong untuk melakukan inovasi berkelanjutan.
- Transaksi Lebih Cepat
Dalam teori pengambilan keputusan konsumen, individu biasanya mengambil keputusan pembelian lebih cepat dibanding keputusan organisasi karena tidak memerlukan proses negosiasi, analisis formal, atau persetujuan berjenjang.
Contoh B2C dari Brand di Indonesia
Model bisnis Business to Consumer dapat ditemukan hampir di seluruh sektor industri. Setiap kategori memiliki karakteristik yang berbeda, tetapi tetap mengikuti prinsip utama, yakni perusahaan menjual langsung kepada konsumen akhir.
- Marketplace
Platform marketplace merupakan contoh paling dominan dari model B2C. Transaksi terjadi antara penjual (bisa individu atau perusahaan) dengan konsumen langsung melalui sistem daring.
Beberapa contohnya adalah Tokopedia (memfasilitasi konsumen membeli barang dari berbagai merchant secara langsung, mulai dari pakaian, elektronik, hingga kebutuhan sehari-hari), Shopee (menyediakan kanal pembelian cepat dengan fitur promosi seperti Flash Sale yang mempengaruhi keputusan pembelian konsumen), dan Lazada (menggabungkan model marketplace serta retail langsung melalui brand official store).
- Retail
Beberapa contoh retail yang menerapkan model bisnis tersebut adalah Alfamart dan Indomaret (ritel minimarket yang memenuhi kebutuhan harian (FMCG)), IKEA (menjual furnitur dan perabot rumah secara langsung, mengutamakan self-service model untuk efisiensi), dan AZKO (menjual peralatan rumah tangga dan perkakas langsung ke konsumen).
- Transportasi dan Layanan Digital
Model ini berkembang pesat seiring digitalisasi kebutuhan sehari-hari. Perusahaan menawarkan layanan yang dikonsumsi langsung oleh individu menggunakan aplikasi. Dua contohnya adalah Gojek (menyediakan transportasi, pesan-antar makanan, hingga jasa harian) dan Grab (memiliki layanan penuh seperti transportasi, pengiriman barang, dan pesan-antar makanan).
- Hiburan
Industri ini berfokus pada konten digital yang dikonsumsi langsung oleh pengguna individu. Contohnya adalah Netflix (menyediakan tontonan film dan serial melalui model subscription) dan Spotify (menawarkan streaming musik dengan sistem berlangganan atau iklan).
Optimalkan Bisnis B2C Anda dengan Media OOH
Iklan luar ruang atau Out of Home (OOH) Advertising memiliki peran strategis untuk mengangkat visibilitas merek B2C, terutama karena sifatnya yang menjangkau audiens luas di ruang publik.
Kehadirannya pun membantu bisnis memperkuat ingatan merek, meningkatkan awareness, serta mempercepat pertumbuhan demand. Salah satu perusahaan OOH terbaik di Indonesia yang dapat mengoptimalkan B2C adalah OTOMEDIA.
Selama lebih dari 10 tahun, OTOMEDIA sudah membantu banyak brand besar untuk memaksimalkan kampanye iklan luar ruang mereka. Dengan ragam keunggulannya, OTOMEDIA mampu meningkatkan visibilitas brand di ruang publik.
- Tracking GPS Real Time: Brand dapat monitoring efektivitas iklan melalui sistem terbaik yang dihadirkan OTOMEDIA.
- Fast Response: OTOMEDIA memiliki tim yang fast response untuk memenuhi kebutuhan brand.
- Premium Service Quality: OTOMEDIA menawarkan eksekusi cepat dengan strategi tepat sasaran serta didukung tim profesional yang responsif.
Selain itu, OTOMEDIA juga memiliki banyak jenis OOH yang dapat digunakan brand untuk memaksimalkan kampanye B2C-nya;
- Statis OOH: Billboard, baliho, spanduk, dan reklame.
- Digital OOH: Digital signage, LED videotron, CGI, dan Megatron.
- Transit OOH: TransJakarta, KRL, KAI, Bus, MRT, hingga angkot.
Dengan kata lain, bersama OTOMEDIA, kampanye iklan luar ruang Anda terkait B2C bisa makin meluas dan berdampak ke penjualan secara keseluruhan.


