Piala Dunia 2026 diproyeksikan ditonton oleh 6 miliar pemirsa global dan dihadiri 5 juta penonton langsung di 16 kota tuan rumah di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Skala inilah yang membuat brand di seluruh dunia termasuk yang beroperasi di pasar Asia Tenggara harus menentukan ulang alokasi budget medianya: tetap bertumpu pada TV ads, atau mengalihkan porsi signifikan ke out-of-home (OOH) dan digital out-of-home (DOOH)?
Jawabannya tidak sesederhana memilih salah satu. Data dari riset industri OOH terbaru menunjukkan bahwa OOH dan TV ads punya peran berbeda dalam funnel pemasaran selama turnamen sebesar Piala Dunia, dan brand yang paling menang adalah yang memahami di titik mana masing-masing media paling efektif digunakan.
Apa Perbedaan Mendasar OOH dan TV Ads Selama Piala Dunia?
TV ads bekerja paling efektif ketika perhatian penonton sepenuhnya terkonsentrasi pada jalannya pertandingan selama 90 menit, termasuk momen jeda hidrasi tiga menit per babak yang mulai diterapkan pada Piala Dunia 2026 akibat kondisi iklim panas di Amerika Utara. Penambahan jeda ini tidak hanya memberikan ruang pemulihan bagi pemain, tetapi juga berpotensi memperluas peluang penayangan iklan dalam siaran langsung.
Di sisi lain, OOH (Out-of-Home) hadir untuk menangkap perhatian audiens di luar durasi pertandingan ketika mereka bergerak menuju lokasi nonton bersama, membeli camilan di minimarket, melakukan perjalanan melalui stasiun transit, atau mengunjungi venue dan fan zone. Dengan demikian, TV dan OOH memiliki peran yang saling melengkapi: TV menguasai momen keterlibatan emosional tertinggi saat pertandingan berlangsung, sementara OOH memperkuat eksposur merek sepanjang perjalanan pengalaman penggemar.
Riset PULSE_ Brand Tracker dari Talon terhadap 501 responden yang baru terpapar iklan OOH menemukan bahwa lebih dari separuh (53%) berencana menonton Piala Dunia 2026, namun mereka tidak menonton di satu lokasi yang seragam. Sebagian besar memilih menonton di pub (42%), rumah teman (28%), atau menjadi tuan rumah nonton bareng (25%). Pola perilaku yang tersebar inilah yang membuat TV ads saja tidak cukup untuk menjangkau audiens secara konsisten sepanjang turnamen.
Kenapa OOH Lebih Unggul di Momen “Sebelum dan Sesudah Peluit”
Audiens Bergerak, dan OOH Ada di Sepanjang Jalur Pergerakan
Data yang sama menunjukkan lebih dari separuh responden (51%) akan tetap menonton di area lokal mereka, sementara 36% bersedia berpindah dalam kota yang sama, dan mayoritas memilih transportasi publik seperti bus untuk berpindah lokasi. Artinya, titik-titik transit halte, stasiun, dan koridor jalan utama menjadi ruang kontak paling padat selama periode turnamen, jauh melampaui waktu tayang pertandingan itu sendiri.
Data Perilaku Belanja yang Terpengaruh OOH
Riset yang sama mencatat bahwa penonton yang terpapar OOH cenderung meningkatkan belanja kategori terkait momen nonton bareng: 53% menyatakan akan menambah belanja camilan, 52% menambah belanja bir, dan 45% menambah pengeluaran untuk makanan siap saji. Lebih penting lagi, 90% penonton mengambil tindakan lanjutan setelah melihat iklan OOH terkait Piala Dunia, dan 96% dari penonton yang tertarik menyatakan akan aktif berinteraksi dengan iklan tersebut.
DOOH Menambahkan Elemen Real-Time yang Tidak Dimiliki TV Konvensional
Berbeda dengan TV ads yang kontennya statis begitu tayang, digital out-of-home (DOOH) memungkinkan Dynamic Creative Optimization (DCO) kreatif iklan yang berubah otomatis berdasarkan skor pertandingan, hasil babak, atau bahkan cuaca di lokasi. Riset industri OOH mencatat penggunaan data langsung dalam kampanye dapat meningkatkan respons otak audiens hingga 32%, sementara pengalaman multisensor pada iklan luar ruang dapat menghasilkan keterlibatan 3–4 kali lebih tinggi dibanding tampilan iklan standar.
Perbandingan: OOH vs TV Ads Selama Piala Dunia 2026
| Aspek | TV Ads | OOH / DOOH |
|---|---|---|
| Waktu jangkauan audiens | Terbatas pada durasi siaran & jeda iklan | Sepanjang hari, termasuk perjalanan sebelum & sesudah pertandingan |
| Sifat kreatif | Statis setelah tayang | Dinamis, bisa berubah real-time (skor, cuaca, hasil babak) |
| Titik kontak audiens | Layar TV / streaming | Transit hub, jalan utama, bandara, area fan zone, bar & restoran |
| Kemampuan menjangkau audiens yang tidak menonton langsung | Rendah | Tinggi menjangkau yang sedang bepergian, bukan hanya yang menonton |
| Fleksibilitas pembelian | Slot terbatas, harus dipesan jauh hari | Ada opsi programmatic (pDOOH) untuk aktivasi mendekati kickoff |
| Potensi tindak lanjut audiens | Sulit diukur langsung | 90% audiens tercatat melakukan tindakan lanjutan setelah melihat OOH |
| Biaya relatif untuk eksposur berulang | Tinggi per slot premium | Kompetitif, terutama untuk format transit & billboard di koridor padat |
Catatan: tabel ini merangkum pola umum berdasarkan riset industri OOH internasional; efektivitas aktual tetap bergantung pada strategi penempatan, kreatif, dan target audiens masing-masing brand.
Strategi Brand yang Menang: Bukan OOH vs TV, Tapi OOH + TV
Brand yang meraih dampak terbesar selama Piala Dunia 2026 bukanlah mereka yang hanya mengandalkan satu saluran media, melainkan yang mampu mengintegrasikan kekuatan TV ads dan OOH secara strategis. TV ads berperan membangun brand awareness secara masif ketika jutaan penonton terpaku pada pertandingan, menciptakan momen keterlibatan emosional yang tinggi.
Sementara itu, OOH memperpanjang kehadiran brand di luar layar dengan menjaga top-of-mind audiens di berbagai titik perjalanan penggemar mulai dari area publik, lokasi nonton bersama, pusat perbelanjaan, hingga jalur mobilitas sebelum dan setelah pertandingan. Kombinasi keduanya memungkinkan brand hadir sepanjang customer journey, termasuk pada momen krusial menjelang dan sesudah laga ketika dorongan untuk melakukan pembelian sering kali meningkat.
Pendekatan yang direkomendasikan industri untuk mengoptimalkan kombinasi ini:
- Kunci inventory OOH sejak dini di titik-titik transit dan koridor jalan utama menuju venue atau fan zone, karena slot premium cenderung cepat terisi mendekati hari pertandingan.
- Gunakan pDOOH untuk fleksibilitas aktivasi mendekati kickoff atau menyesuaikan pesan dengan momen pertandingan tertentu.
- Padukan targeting berbasis pergerakan audiens (geofencing di sekitar stadion, bar, dan transit hub) dengan pesan TV yang lebih emosional dan naratif.
- Manfaatkan momen di luar 90 menit perjalanan menuju venue, waktu nonton bareng, hingga follow-up pasca-pertandingan sebagai titik kontak OOH yang justru lebih sering terjadi dibanding waktu tayang itu sendiri.
Prinsip ini juga berlaku untuk pasar transit-heavy seperti Jakarta, di mana pergerakan penumpang KRL, TransJakarta, dan MRT menciptakan pola keramaian harian yang serupa dengan yang terjadi di kota-kota tuan rumah Piala Dunia 2026. Brand yang ingin mereplikasi strategi ini di Indonesia bisa mempelajari lebih lanjut soal Branding KAI dan KRL sebagai salah satu format transit OOH dengan pola pergerakan audiens harian yang tinggi.
FAQ: OOH vs TV Ads Piala Dunia 2026
Apakah OOH lebih efektif dibanding TV ads selama Piala Dunia 2026?
OOH lebih efektif untuk menjangkau audiens di luar waktu tayang pertandingan, seperti saat bepergian menuju venue atau lokasi nonton bareng. TV ads tetap unggul untuk membangun kesadaran massal saat pertandingan berlangsung. Keduanya idealnya dipadukan, bukan dipilih salah satu.
Kenapa jeda hidrasi di Piala Dunia 2026 relevan dengan strategi iklan?
Jeda hidrasi tiga menit per babak yang diberlakukan karena iklim panas di Amerika Utara menambah slot iklan TV selama siaran, sehingga brand yang sudah membeli slot broadcast mendapat eksposur tambahan di dalam pertandingan itu sendiri.
Apa itu DOOH dan bagaimana perannya di Piala Dunia 2026?
Digital out-of-home (DOOH) adalah iklan luar ruang berbasis layar digital yang kreatifnya bisa diubah secara real-time. Selama Piala Dunia 2026, DOOH digunakan untuk menampilkan skor langsung dan menyesuaikan pesan iklan berdasarkan hasil pertandingan.
Format OOH apa yang paling relevan untuk brand selama Piala Dunia?
Format yang paling relevan mencakup billboard di koridor arteri menuju venue, wallscape di area urban padat, station domination di transit hub, serta iklan di dalam kereta dan bus yang menjangkau audiens dengan waktu tunggu (dwell time) lebih lama.
Apakah brand tanpa status sponsor resmi tetap bisa memanfaatkan OOH selama Piala Dunia?
Bisa, selama tidak menggunakan aset terproteksi seperti logo, maskot, atau frasa resmi turnamen. Banyak brand non-sponsor justru mendapat perhatian besar dengan kampanye OOH bertema budaya sepak bola tanpa mengklaim asosiasi resmi dengan penyelenggara.
Bagaimana cara mengukur efektivitas kampanye OOH dibanding TV selama event besar?
Efektivitas OOH dapat diukur melalui data lokasi seluler untuk melihat lonjakan kunjungan di sekitar titik iklan, uji lift pencarian dan media sosial, serta tindak lanjut audiens pasca-eksposur metrik yang lebih sulit didapat langsung dari TV ads konvensional.
Kesimpulan
Piala Dunia 2026 bukan hanya turnamen sepak bola terbesar dalam sejarah, tapi juga panggung pengujian bagi strategi media brand secara global. Data menunjukkan bahwa OOH unggul dalam menjangkau audiens di sepanjang perjalanan mereka bukan hanya saat menonton pertandingan sementara TV ads tetap relevan untuk momen emosional puncak di dalam laga. Brand yang paling siap adalah yang merancang strategi gabungan sejak awal, mengunci inventory OOH lebih dini, dan memanfaatkan fleksibilitas DOOH untuk tetap relevan di setiap fase turnamen.


